Suwawa – Perjuangan penambang rakyat untuk mendapatkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Gorontalo kian terancam. Forum yang dibentuk untuk memperjuangkan hak-hak penambang kini diduga telah disusupi oleh pihak-pihak yang hanya berfokus pada kepentingan pribadi untuk meraih keuntungan dari “batu hitam” (Galena), meninggalkan agenda utama yang murni untuk kesejahteraan penambang.
Beberapa penambang emas yang sebelumnya tergabung dalam forum tersebut mengungkapkan kekecewaan mereka.
“Kami bergabung untuk memperjuangkan WPR agar kami bisa menambang secara legal. Tapi belakangan ini, arah perjuangan sudah berubah,” ujar Aba Diko, salah seorang penambang.
“Sekarang yang dibahas selalu soal ‘batu hitam’, bukan lagi soal emas atau WPR. Ada orang-orang baru yang masuk, mereka tidak peduli dengan WPR, hanya peduli dengan untung miliaran dari nikel.”
Kecurigaan ini semakin kuat setelah kehadiran beberapa pihak yang sering berbarengan dengan investor Batu Hitam.
Kehadiran sosok yang memiliki rekam jejak terkait komoditas bernilai tinggi ini dinilai telah menggeser fokus perjuangan.
“Ini bukan lagi soal penambang rakyat. Ini sudah jadi bisnis besar,” lanjut penambang tersebut. “Kami dengar, setiap kontainer batu hitam harganya bisa mencapai miliaran rupiah.
Jelas, keuntungan sebesar itu lebih menarik bagi mereka daripada nasib ribuan penambang emas yang cuma mencari makan.”
Penambang lain menambahkan, perjuangan untuk mendapatkan WPR adalah upaya jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan proses hukum yang panjang.
“Kami butuh dukungan untuk mengurus izin, bukan untuk melawan perusahaan yang punya izin resmi dengan alasan yang dibuat-buat. Tapi sepertinya ada orang-orang yang ingin jalan pintas dengan menguasai lahan karena ada batu hitam di sana.”
Situasi ini menciptakan perpecahan di kalangan penambang. Mereka yang murni memperjuangkan WPR merasa perjuangan mereka telah dikhianati dan dijadikan tameng untuk memuluskan agenda tersembunyi.
Konflik ini tidak hanya mengancam legalitas penambangan rakyat, tetapi juga berpotensi merusak hubungan baik yang selama ini terjalin secara tidak resmi antara penambang dan PT GM. Jika PT GM mengambil langkah tegas, seluruh penambang—baik yang terlibat maupun tidak—akan menjadi korban.
![]()







