Tilongkabila, Berita – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bongoime, Kecamatan Tilongkabila mulai menunjukkan lompatan signifikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hanya dalam beberapa hari setelah memperoleh Sertifikat Laik Higienis (SLHS), dapur gizi ini berhasil meningkatkan jumlah penerima manfaat lebih dari dua kali lipat, dari 1.000 menjadi 2.500 anak.
Kepala SPPG Bongoime, Hasrul Sani H. Ambodale menegaskan bahwa komitmen utama mereka adalah menjaga kualitas layanan gizi dan memastikan setiap anak menerima makanan sehat sesuai standar Badan Gizi Nasional. Ia juga menambahkan, peningkatan kapasitas layanan tidak bisa dilakukan sembarangan. Semuanya harus memenuhi standar ketat.
“Awal beroperasi kami hanya melayani 1.000 penerima manfaat. Itu karena kami wajib memenuhi SLHS atau Sertifikat Laik Higienis terlebih dahulu. Tanpa sertifikat itu, kami tidak diperbolehkan menambah porsi,”tegas Hasrul Sani H. Ambodale saat diwawancarai awak media usai mendampingi Plt Deputi Promosi dan Kerjasama Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Gunalan meninjau SPPG Bongoime, Kecamatan Tilongkabila, Rabu (19/11/2025).
SLHS menjadi titik balik penting. Setelah sertifikat diterbitkan, SPPG Bongoime langsung menaikkan kapasitas layanan menjadi 2.500 porsi per hari. Menurut Hasrul, capaian ini menunjukkan kesiapan penuh dapur gizi dalam memenuhi seluruh ketentuan teknis dan higienitas yang ditetapkan BGN.Operasional SPPG Bongoime berlangsung nyaris tanpa henti. Ada kepatuhan ketat, dimana dapur tidak boleh mulai mengolah makanan sebelum pukul 00.00 WITA.
“Kami biasanya mulai memasak jam 1 atau jam 2 dini hari. Saat itu semua tim sudah bergerak,”jelasnya.
Setelah proses memasak selesai, pengantaran dimulai tepat pukul 07.30 untuk PAUD, TK, dan SD. Sementara untuk SMP dan SMA, distribusi dilakukan mulai pukul 09.30. Pengaturan ini memastikan makanan tiba dalam kondisi aman, layak konsumsi, dan sesuai kebutuhan kelompok usia masing-masing.
“Kadang yang menjadi tantangan adalah logistik. Mobil pengantar hanya dua, jadi harus bolak-balik. Tapi kami terus berusaha mempercepat agar tidak ada keterlambatan,”tekan Hasrul.
Untuk melayani 2.500 porsi per hari, SPPG Bongoime mengerahkan 47 relawan yang bekerja secara terstruktur. Ada tim persiapan bahan, tim memasak, tim pemorsian, hingga tim pengantaran. Semua bekerja dalam sistem shift untuk menjamin ritme kerja tetap efisien.
“Semua sudah ada jadwalnya, ada jam masuknya. Kami menjalankan sistem dengan disiplin,”ujarnya.
Soal kualitas gizi, Hasrul mengungkapkan bahwa seluruh perhitungan ditentukan oleh ahli gizi. Mereka memastikan kandungan karbohidrat, protein, serat, dan nutrisi lainnya sesuai standar yang tercantum dalam juknis BGN.
“Kami tidak boleh mengurangi kandungan gizi. Instruksinya tegas. Semua harus sesuai dengan standar yang ada di petunjuk teknis,”ungkapnya.
SPPG Bongoime pun telah menjalin kerjasama dengan berbagai supplier lokal, mulai dari pemasok buah, sayuran, daging, ikan, hingga rempah. Seluruh bahan diproses dengan protokol ketat, diterima, disortir, dipersiapkan, lalu diolah sesuai standar SLHS.
“Alhamdulillah sejak awal hingga hari ini, dari sisi bahan pangan kami tidak mengalami kendala berarti,”tutur Hasrul.
Bagi Hasrul dan timnya, MBG bukan sekadar program pemerintah. Ada misi sosial yang jauh lebih besar. Program ini memungkinkan anak-anak, termasuk yang tinggal di wilayah pelosok, mendapatkan makanan layak dan bergizi setiap hari.
“Program ini sangat mulia. Kami bisa membantu anak-anak yang membutuhkan. Itu yang membuat kami yakin dan terus bersemangat,”tutupnya. (Tim Redaksi)
The post Produksi Porsi MBG di SPPG Bongoime Naik 150 Persen appeared first on Berita Bone Bolango.
![]()








