Suwawa – Konflik antara kelompok yang dikuasai oleh Rongky dan kawan-kawannya dengan PT Gorontalo Minerals (GM) kian meruncing, pada persoalan sengketa lahan dan izin PT GM.
Alih-alih bicara atas nama rakyat, namun ada kepentingan Batu Hitam atau batu galena dengan harga fantastis lebih dari Rp 1 miliar per kontainer untuk “batu hitam” disebut-sebut menjadi pemicu utama.
Ironisnya, di tengah ketegangan ini, nasib ribuan penambang emas ilegal yang selama ini “hidup damai” di lahan konsesi PT GM ikut terancam.
“Kami tahu, ada isu besar soal batu hitam itu. Harganya gila-gilaan,” ungkap Taufik salah seorang penambang emas yang ada di Suwawa Timur.
“Tapi kami ini beda. Kami hanya cari emas, dari dulu begitu. Kami tidak ada urusan dengan batu hitam. Kenapa kami yang jadi korban sekarang?”
Menurut sumber di lapangan, sejak dulu PT GM memilih untuk tidak melakukan pengusiran paksa terhadap para penambang emas ilegal.
Kondisi ini menciptakan “konflik” yang bisa berakibat fatal.
Namun, konflik kian meruncing masuknya pihak ketiga yang diduga memiliki kepentingan terhadap “batu hitam” tersebut. Kelompok ini, dengan narasi “perlawanan rakyat”, mencoba membenturkan PT GM dengan masyarakat yang sudah hidup puluhan tahun menambang.
“Yang bikin kami khawatir, PT GM selama ini diam. Tapi kalau konflik terus begini, bukan tidak mungkin perusahaan akan mengambil langkah tegas untuk mengamankan seluruh area konsesi, termasuk lahan tempat kami menambang emas,” tutur penambang tersebut.
Ia menambahkan, “gara-gara miliaran per kontainer itu, nasib kami yang cuma cari makan jadi terancam.”
Para penambang emas ini berharap agar pihak-pihak yang berkonflik dapat menyelesaikan masalah mereka tanpa mengorbankan mata pencarian mereka.
Mereka khawatir, narasi konflik yang terus-menerus disuarakan hanya akan memicu PT GM untuk bertindak lebih keras, yang pada akhirnya akan mengusir semua penambang, baik yang terkait dengan isu “batu hitam” maupun yang tidak.
![]()








